Berikut beberapa literasi kaum milenial untuk al-quds yang ditinjau dari aspek teknologi dan pendidikan.
- ASPEK TEKNOLOGI
Pemuda di era sekarang (kaum milenial) sangat dekat dan akrab dengan teknologi, dengannya informasi sangat cepat dan mudah untuk di dapat, kaum milenial juga mempunya literasi dalam menjaga teknologi ini, khususnya media sosial. Dewasa ini media sosial sangat membabi buta dalam memberikan informasi terkait suatu hal, yang bisa mem-branwash otak kita kepada suatu kebenaran yang belum tentu akan kebenarannya atau biasa disebut post truth, yang cendrung menerima informasi yang hanya menyenangkan dirinya dan tidak peduli benar dan salah.
Post truth sendiri dapat di filter dengan mengacu pada Q.S Al-Hujurat ayat 6
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
Artinnya: Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.
Allah memerintahkan agar benar-benar meneliti berita yang dibawa oleh orang-orang fasik dalam rangka mewaspadainya, sehingga tidak ada seseorang pun yang memberikan keputusan berdasarkan peerkataan orang fasik tersebut, dimana pada saat itu orang fasik tersebut berpredikat sebagai seseorang pendusata dan berbuat kekeliruan, sehingga orang yang memberikan keputusan berdasarkan ucapan orang fasik itu berarti ia telah mengikutinya dari belakang. Padahal Allah telah melarang untuk mengikuti jalan orang yang berbuat kerusakan. Dari sini pula, beberaoa kelompok ulama melarang untuk menerima riwayang yang diperoleh dari orang yang tidak diketahui kadaannya karena kemungkinan orang tersebut fasik.[1]
Ketelitian dan mem-filter dalam menerima kebenaran dari suatu berita begitu sangat diperlukan dalam penjagaan dari kaum fasik yang ingin mendapatkan menfaat untuk kepentingan pribadi mereka. Al-quds sendiri sudah menjadi salah satu korban post truth yang dibuat oleh Israel.
Dalam hal ini, para pemuda milenial mempunya literasi yang sangat kuat dalam memfilter berita yang ada, mengungkapkan kebenaran dari post truth yang beredar di media sosial dengan pemanfaatan teknologi. Berikut adalah beberapa literasi kaum milenial melalui aspek teknologi untuk alquds:
- Memanfaatkan media sosial populer (instagram, facebook, twitter, youtube) untuk memberikan informasi yang real dan kebenaran yang nyata, tentang al-quds. Seperti yang sudah dilakukan oleh beberapa saudara kita.
- Desain Poster mengenai palestina, dan menguploadnya di sosmed maupun media cetak
- Membuat video durasi pendek yang berisikan konten fakta – fakta real dan kelebihan yang dimiliki alquds yang bisa di nikmati oleh semua kalangan, dari animasi untuk anak – anak dan film pendek untuk kalangan dewasa, yang intinya untuk mengangkat semangat kaum muslimin untuk berjihad di jalan Allah, untuk membantu al-quds, baik secara online maupun offline baik secara langsung terjun ke lapangan atau dengan tidak langsung. Dan di upload ke sosial media.
- Membuat program pembelajaran online tentang al-quds baik dengan website atau aplikasi android, mulai dari pengenalan masjidil aqsa, sejarah perjuangan umat islam dalam menaklukkan masjidil aqsa, dan memperkenalkan program ini ke sekolah sekolah islam dan tpa atau tpq yang ada.
- Membentuk organisasi atau komunitas yang melawan post truth terhadap al-quds, dengan memberikan informasi yang real dan yang sesuai dengan al-quran serta hadist.
Pemanfaatan teknologi yang semakin maju, bisa menjadi ladang jihad bagi kaum milenial dalam membantu al-quds.
2. ASPEK PENDIDIKAN
Ditinjau dari aspek pendidikan, kaum milenial dapat melakukan beberapa hal berikut:
- Mengumpulkan data real dan jelas mengenai informasi al-quds, antara lain tentang: Masjid Al-Qibly, The Dome of Rock, The Ancient Aqsa, Musholla AL – Marwani, Masjid untuk wanita di era sholahuddin al-ayubi, Masjid Cradle of Issa (Jesus) era Otoman, Masjid Al-Buraq era umayyah, Masjid Maroko era sholahuddin al-ayubi, Dome of the Chain era Umayyah, The Dome of Ascension era sholahuddin al-ayubi, dan lain sebagainya. Informasi yang sudah terkumpulkan ini segera di publikasikan untuk kemudian di sebarkan ke seuruh umat manusia, sampai ke pelosok terpencil sekalipun.
- Membuat komunitas atau organisasi pembelajaran tentang al-quds, dengan mengadakan pembelajaran keliling dari rumah kerumah mengenalkan tentang al-quds yang susuai dengan al-quran dan hadist, guna meningkatkan keprihatinan umat islam dengan alquds, yang merupakan bumi yang di sucikan.
- Menjalankan perpustakaan keliling, yang mana berisikan buku buku yang menceritakan tentang al-quds, dan buku-buku tersebut harus jelas asal sumber di dapatkannya.
- Bagi akademisi pemuda milenial agar memasukkan al-quds kedalam kajian mereka, baik secara tertulis melalui skripsi, tesis, makalah, jurnal. Atau secara langsung melalui kegiatan diskusi, lokal karya atau seminar.
[1]Dr. Abdullah bin Muhammad bin Abdurrahman bin Ishaq Al-Sheikh, diterjemahkan oleh M. Abdul Ghoffar E.M, Labaabut Tafsir Min Ibni Katsiir, ( Mu-assasah Daar al-Hilaal Kairo Cet1, Th. 1414 H – 1994 M ) Hal 97