Istilah post truth tidak asing di era digitalisasi sekarang. Ia telah hadir pada tahun 1992 dikenalkan oleh Steve Tesich dalam artikelnya The Gorvernment of Lies di majalah The Nation. Dewasa ini berbagai macam informasi dapat diperoleh hanya dengan sentuhan jari. Berita yang beredar disekitar kita pun menjadi hal yang mungkin dipertanyakan akan kebenarannya, terkadang kebenaran yang dimaksud hanya sesuai dengan emosi sosial belaka.
Era digitalisasi seakan menjadikan mudah dan cepat, post truth sangat di dukung oleh digitalisasi dan dapat memunculkan hiperrealitas komunikasi yang menyebabkan sulitnya membedakan kebenaran dan kepalsuan. Literasi pemuda menjadi salah satu jalan dalam mem-filter post truth.
Munculnya post truth muncul sejak berkembangnya ilmu pengetahuan, dan masuk pada zaman modern. Menurut Auguste Comte ada tiga tahap perkembangan ilmu:
- Tahap Teologis dan Militer (Teologis).
Tahap ini merupakan periode paling lama dalam sejarah manusia dan disebut sebagai masa kekanakan intelegensia manusia. Pada tahap ini manusia mempercayai adanya kekuatan-kekuatan supranatural yang muncul dari kekuatan zat adikodrati atau jimat atau kekuatan yang berasal dari luar diri manusia atau muncul dari kekuatan tokoh-tokoh agamis yang diteladani oleh manusia. Dalam kehidupan sosial, masyarakat di sini hidup berdasarakan pada penaklukan, yaitu hubungan sosial bersifat militer yang senantiasa menaklukkan dan menundukkan masyarakat lain. Oleh karenanya, pada tahapan ini pula terbagi menjadi tiga sub-tahapan, yaitu: fetisisme, politheisme dan monotheisme.
Fetisisme ialah suatu bentuk pikiran yang dominan dalam masyarakat primitif, meliputi kepercayaan bahwa semua benda memiliki kelengkapan kekuatan hidupnya sendiri (roh-roh). Dan manusia pada tahap ini mulai mempercayai kekuatan jimat atau benda. Fase ini pula dapat dikatakan sebagai fase awal sistem teologis dan militer.
Politheisme ialah anggapan yang muncul karena ada kekuatan-kekuatan yang mengatur kehidupan atau gejala alam (dewa-dewa atau makhluk ghaib). Pada tahap ini sudah muncul kehidupan kota, pemilikan tanah menjadi institusi sosial, adanya sistem kasta dan perang dianggap sebagai satu-satunya cara menciptakan atau meraih kehidupan politik yang kekal. Fase ini dapat pula dikatakan sebagai fase pengembangan sistem teologi dan militer.
Monotheisme ialah kepercayaan pada dewa yang mulai digantikan dengan zat tunggal atau hanya Tuhan yang berdaulat dan berkuasa untuk mengendalikan alam ini. Fase ini dapat dikatakan sebagai fase modifikasi sistem teologi dan militer. Modifikasi sistem militer (militerisme) yang dimaksud adalah suatu hubungan sosial masyarakat bersifat militer di mana masyarakat senantiasa bertujuan untuk menundukkan dan menaklukkan masyarakat lain.
- Kedua, Tahap Metafisik (Revolutionary crisis).
Tahapan ini merupakan fase transisi antara tahap teologis menuju ke tahap positfistik sehingga disebut dengan masa remaja intelegensia manusia. Tahap ini ditandai dengan adanya satu kepercayaan manusia akan hukum-hukum alam secara abstrak yang diilustrasikan dengan bentuk pemikiran yang bersifat filosofis, abstrak dan universal. Jadi, kepercayaannya bukan lagi kepada kekuatan dewa-dewa yang spesifik akan tetapi pemikiran manusia terbelenggu oleh konsep filosofis dan metafisis yang ditanamkan oleh filosof maupun orang agamawan secara abstrak dan universal (agen-agen ghaib digantikan dengan kekuatan abstrak), seperti “Akal Sehat”nya Abad Pencerahan.
Dalam kehidupan sosial, masyarakat tidak lagi bersifat militer akan tetapi juga belum bersifat industrial. Pada konteks masa ini tujuan utama masyarakat bukan berupa penaklukan saja tetapi diperkuat dengan adanya peningkatan produksi, sehingga sistem perbudakan individual memang bergeser terhapus akan tetapi perbudakan yang dimiliki oleh produsen masih memperoleh berbagai haknya dalam hubungannya dengan militer. Oleh karenanya ada dua tujuan aktifitasnya yaitu penaklukan dan produksi. Produsen dilindungi sebagai suatu sumber kemiliteran dan perang dianggap secara sistematik penting untuk mengembangkan tingkat produksinya. Artinya tahapan ini merupakan jembatan atau tahap transisi dari masyarakat militer (primitif) menuju industri.
- Ketiga, Tahap Positif dan Ilmu Pengetahuan (scientific stage).
Tahap ini merupakan tahap terakhir dalam pemikiran evolusionisme sosial Auguste Comte dan dianggap sebagai masa dewasa intelegensia manusia. Pada tahap ini pikiran manusia tidak lagi mencari ide-ide absolut yang asli, yang menakdirkan alam semesta dan menjadi penyebab fenomena. akan tetapi pikiran manusia mulai mencari hukum-hukum yang menentukan fenomena, atau menemukan rangkaian hubungan yang tidak berubah dan memiliki kesamaan ( tahap berfikir secara ilmiah). Tahap ini manusia mulai mempercayai data empiris sebagai sumber pengetahuan terakhir namun bersifat sementara dan tidak mutlak. Namun, melalui analisis sosial tersebut memungkinkan manusia dapat merumuskan hukum-hukum yang seragam, sehingga manusia mulai maju dan berkembang di depan ilmu pengetahuan.[1]
Dari penjelasan 3 fase perkembangan ilmu pengetahuan di atas, dapat digarisbawahi bahwa fase teologis berhubungan dengan ketentuan Tuhan dan adanya kekuatan supranatural, serta pada tahap kedua kepercayaan manusia dengan hukum alam yang diilustrasikan secara abstrak yang bisa dipermisalkan dengan mitos – mitos yang dapat membuat tenang.
Kemudian pada fase ke tiga yaitu Scientific stage yang mana semua tahapan pemikiran dilakuakn secara ilmiah, dan pada fase inilah muncul Break truth pada era 70 an yang dimulai dari Prancis yang melahirkan post modern, yang memiliki misi untuk menkonter/ berusaha membuat klaim kebenaran ilmiah di kampus-kampus.
Istilah post-truth ini
dalam khazanah Islam dapat bermakna pengkhianatan atas posisi penting pemegang
kunci informasi. Ini tergambar dalam sebuah hadits: "Tidak akan terjadi
hari kiamat sehingga muncul perkataan keji, kebiasaan berkata keji, memutuskan
kerabat, keburukan bertetangga, dan sehingga orang yang khianat diberi amanah
(kepercayaan) sedangkan orang yang amanah dianggap berkhianat". [HR.
Ahmad, No. 6514). Dari hadits yang lain, disebutkan gambaran tentang orang
munafik ini yaitu: "Tanda orang munafik ada tiga yaitu apabila bercerita
dia berdusta, apabila berjanji dia menyelisihi janjinya, dan apabila diberi
amanah (kepercayaan) ia berkhianat” (HR. Bukhari dan Muslim).
[1]Muhammad Chabibi, Hukum Tiga Tahap Auguste Comte dan Kontribusinya Terhadap Kajian Sosiologi Dakwah Jurnal Peradaban dan Pemikiran Islam Vol. 3, No. 1, Juni 2019, hal 19-20